Panggung Meriah, Dompet Pendidikan Terkikis: Siapa yang Salah di Kukar?

Kutai Kartanegara — Sorotan publik memuncak. Di satu sisi, ribuan mahasiswa Kukar menerima kabar bahwa nilai beasiswa mereka dipangkas dari Rp5 juta menjadi Rp1,6 juta. Di sisi lain, masyarakat menyaksikan panggung megah berdiri di jantung kota, lampu sorot menembus langit, musik memecah malam, dan artis nasional menghibur ribuan penonton.

Bagi banyak orang, kontras ini terasa seperti tamparan. “Katanya anggaran terbatas, tapi kok konsernya jalan terus?”begitu suara yang bergema di media sosial.

Namun, di balik riuh kritik itu, ada cerita yang jarang muncul di permukaan. Menurut dokumen resmi dan penjelasan dari BPKAD Kukar, anggaran beasiswa dan anggaran konser berada di pos yang berbeda. Secara hukum, dana konser tidak bisa dialihkan begitu saja untuk menambah nilai beasiswa, tanpa melalui mekanisme dan aturan ketat.

Kepala BPKAD Kukar menjelaskan bahwa pengurangan nilai beasiswa dilakukan demi pemerataan. “Kalau kita mempertahankan Rp4 juta per mahasiswa, akan banyak yang tidak kebagian. Pilihan ini berat, tapi harus diambil,”ujarnya.

Sementara itu, Pemkab membela konser tersebut sebagai strategi promosi daerah dan penggerak ekonomi. Dalam pandangan mereka, ribuan penonton berarti ribuan potensi transaksi bagi pedagang lokal, hotel, hingga transportasi. “Ini bukan sekadar pesta musik, tapi investasi citra daerah,” kata seorang pejabat.

Tetapi persepsi publik tak sesederhana tabel anggaran. Di mata mahasiswa yang harus memotong biaya buku, sewa kos, atau uang makan, konser itu hanyalah simbol kemewahan yang tak menyentuh nasib mereka.

Pengamat politik lokal menilai, persoalan ini adalah soal komunikasi. “Masyarakat tidak hidup di lembaran APBD. Mereka hidup di realitas sehari-hari. Tanpa penjelasan yang mengena, kebijakan yang benar pun akan terlihat salah,”ujarnya.

Pada akhirnya, persoalan ini memaksa pemerintah berjalan di atas tali tipis. Di satu sisi, mereka ingin membangun optimisme lewat hiburan dan promosi daerah. Di sisi lain, mereka berhadapan dengan generasi muda yang menuntut prioritas pada masa depan pendidikan. Dan di tengah gemerlap lampu konser itu, dilema itu tetap tak menemukan jawaban yang mudah.

Leave a Reply