Konspirata.com, Jakarta – Pengamat politik dan pendiri Cyrus Network, Hasan Nasbi, angkat suara membela politisi Gerindra Fadli Zon yang menuai kritik atas tulisannya bertema sejarah. Ia menilai bahwa kritik yang diarahkan kepada Fadli lebih bernuansa sentimen politik ketimbang kritik akademik yang berbobot.
Menurut Hasan, siapa pun yang hendak mengkritik tulisan sejarah harus memahami standar penulisan ilmiah dan memiliki kompetensi di bidang sejarah. “Jangan asal kritik. Kita harus tahu posisi dan kapasitas diri. Menilai tulisan sejarah itu tidak bisa serampangan,” ujarnya dalam sebuah pernyataan yang ramai dikutip warganet pada Senin, 30 Juni 2025.
Fadli Zon sendiri dikenal sebagai politisi yang aktif menulis, terutama di bidang sejarah dan budaya. Ia telah menelurkan sejumlah buku dan artikel opini yang mendapat ruang publik, baik di media massa nasional maupun jurnal sejarah. Hasan menilai, reputasi tersebut seharusnya menjadi pertimbangan bagi siapa pun yang ingin mendebat substansi tulisan Fadli.
“Kalau kritiknya hanya bersandar pada ketidaksukaan pribadi atau agenda politik tertentu, itu bukan diskusi ilmiah, tapi serangan personal,” tegas Hasan.
Dalam dunia akademik dan penulisan sejarah, validitas sumber, metode analisis, dan kerangka historiografis adalah aspek yang krusial. Hasan mengingatkan bahwa menilai karya sejarah membutuhkan disiplin berpikir dan pemahaman konteks yang utuh. Ia menyayangkan jika perdebatan intelektual dikeruhkan oleh bias politik semata.
Pernyataan Hasan muncul setelah sejumlah tokoh publik dan pengguna media sosial mengkritik tulisan Fadli Zon mengenai tokoh dan peristiwa sejarah tertentu, yang dianggap tidak netral dan sarat tafsir politis. Meski demikian, tidak sedikit juga akademisi dan penulis sejarah yang justru mengapresiasi keberanian Fadli menyorot sisi-sisi sejarah yang jarang disentuh.
Hasan menutup pernyataannya dengan menyerukan agar ruang publik digunakan untuk diskursus yang sehat dan berbasis argumentasi, bukan untuk pembunuhan karakter. “Kalau kita ingin maju secara intelektual, kritik harus datang dari orang yang paham, bukan sekadar vokal di media sosial,” pungkasnya. (Rdk/Ar)
Leave a Reply